topbella

Rabu, 17 Oktober 2012

Lingkaran

suatu hari saya berjalan sendiri melewati sawah-sawah di sekitar kampung halaman. saya mencintai kampung saya meski tak banyak yang bisa dibanggakan dari kampung ini. tapi saya tulus mencinta, karna itulah adanya.

terkadang suatu kampung pun akan membuat kita muak secara berlebih.
tradisi, adat, kebiasaan, semuanya bahkan lebih erat mengikat kita daripada hukum negara.
ya.. merekalah yang disebut dengan budaya.

siapa sih yang bisa hidup sendiri?
siapa sih yang bisa hidup tanpa ada tetangga?
tanpa ada aturan?
tanpa ada tradisi?
kita akan berjalan tanpa arah, dan  buruknya berjalan ke arah yang salah

hidup tanpa pedoman itu memang memilukan

tapi tak sedikit juga aturan, tradisi, dan kebiasaan itu sendiri yang merobek perlahan mental kita.
siapa yang salah?
aturan?
tradisi?
kebiasaan?
atau nenek moyang kita?

tapi apa iya, nenek moyang menjadi tersangka?
sedangkan kebiasaan itu pun kadang berubah. semakin kejam, dan lincah.

ini seperti lingkaran,
"aku" menyebabkan "kamu", "kamu" menyebabkan "aku".
lingkaran tidak ada ujungnya, semakin dicari semakin banyak lingkaran yang muncul.
lingkaran ini bisa membesar maupun mengecil, atau memisahkan diri dan membentuk lingkaran yang baru.

masyarakat membentuk kebiasaan, kebiasaan membentuk masyarakat. kebiasaan berubah masyarakat berubah.
entah mana yang lebih dulu mengalami perubahan?

lalu, apa yang bisa kita lakukan?
bahkan lingkaran ini begitu membingungkan.

hei....
siapa yang berhak atas lingkaran ini?
SAYA dan KAMU jawabannya
kita lah yang berkuasa. berkuasa atas diri kita sendiri.
jadi, jika kamu ingin keluar dari lingkaran ini dan membuat lingkaran  baru yang lebih indah adanya.
maka jangan hanya minta keputusan dan pergerakan dari presiden, mentri, dan para pejabat lainnya.
hukum saja tidak akan cukup teman.
karena hal yang harus diingat adalah...
lingkaran ini begitu rumit. 
dan lingkaran tidak ada ujungnya.



1 komentar:

Anonim mengatakan...

sebagus apapun budaya, tradisi, dan adat istiadat, namun jangan pernah dijadikan pedoman utama, karna dtak ada pedoman yang lebih baik daripada 2 pusaka yang kita mliki.
halal haram, baik buruk, kewajiban dan hak, semua harus bertumpu pada keduanya, bukan yang lain.
yang lain hanya sebagai pelengkap yang juga harus bermuara pada keduaya.

Poskan Komentar

komentar itu memabangun :)
terimakasih kunjungannya...

About Me

Foto Saya
hafda putri hibatul wahdini
muslim, hafda, minang, psikologi, indonesia :)
Lihat profil lengkapku