topbella

Minggu, 13 Mei 2012

saya ingin menikah dan punya anak

betapa bodoh adan angkuhnya saya
saya tidak tau sudah berapa lama waktu yang saya habiskan "SENDIRI" tanpa merasa perlu untuk memahami orang lain lebih dalam lagi. psikologi menuntut saya akan hal itu tapi itu hanya sebatas teori, saya baru saja terjun lebih terjal dan ingin lebih terjal lagi.


beberapa waktu yang lalu saya mengenal seseorang, mungkin ketika orang yang tidak kenal melihatnya, mungkin dia akan enggan mendekat dan "takut".
"labeling" hal yang sudah menjadi kebiasaan bagi kita,
mengklaim seseorang dari tampilan fisik, menduga-duga bahkan melakukan judgement.
apa sih yang kamu pikirkan ketika melihat orang tattoan?
dulu saya akan mengira dia itu adalah preman, suka melakukan kriminal, pengguna narkoba, dan hal-hal yang bersifat negative.


ketika saya diharuskan untuk bertemu dengan seseorang pengidap HIV. saya bingung, takut, pikiran aneh pun silih berganti muncul menghantam otak. tapi saya harus profesional, saya harus melawan pikiran buruk itu.
sesaat saya menemui dia di salah satu rumah  komunitas peduli akan penderita HIV/AIDS, ketakutan saya muncul lagi karena yang saya temui adalah orang-orang dengan tubuh penuh tatto. entahlah saya hanya diam menatap sejenak dan langsung sadar "saya harus melaksanakan tugas saya".


saya berbincang-bincang dengannya, "wahhh.... ternyata baik juga"... cukup lama "wah ternyata lucu juga".
dan pada saat saya mulai nonton film dari komunitas mereka, di saat itu saya merasa BURUK, BEGO, entahlah. "saya kalah"


mendengarkan cerita mereka yang dulu terjerumus kedalam penyakit "kecanduan itu" hingga virus HIV menyerang mereka. mereka memberontak, tidak terima akan hal itu.
terbuang, tercampakkan dari lingkungan.
entahlah.. lagi-lagi saya merasa buruk.


hal yang salah dari kita adalah membedakan mereka.
kita tidak memahami tapi menghakimi.
setiap orang punya kesalahan, tapi setiap orang selalu merasa benar.
kesalahan kecil atau besar sama saja apabila sampai akhir, kita tidak pernah menyadari melakukan kesalahan  itu.
saya merasa buruk karena saya lupa akan kesalahan-kesalahan kecil saya dan selalu merasa baik.
tapi ternyata tidak.
saya iri kepada mereka karena WAKTU  sudah menjawab, menyadarkan mereka di waktu yang tepat. tidak ada kata terlambat untuk berubah.


ada hikmah di balik kesalahan mereka, mereka lebih bisa menghargai dan belajar, ada keinginan untuk sama. virus itu tidak akan menghalangi mereka untuk berkarya, untuk berbuat sesuatu.


saya merasa dia itu berbeda, bukan karena dia pengidap HIV tapi karena dia luar biasa.
di saat orang-orang ingin dispesialkan, dia tidak ingin ada disorientasi.
di saat semua orang berlomba dengan kemewahannya dia memilih untuk hidup sederhana.
di saat semua orang bangga di puji, dia sama sekali tidak menginginkan itu.
di saat orang-orang malu akan kesalahannya, dia bahkan menceritakannya ke semua orang.
di saat orang-orang kalah dengan tekanan, dia mecoba bangkit.
apakah hidupmu akan sepert ini saja?
itulah bedanya.


dia yakin yang mengenal dirinya adalah dirinya sendiri.
dia tidak perlu pembelaan dari siapapun, karena dia adalah kewajibannya.


mata saya terbuka, bahwa tidak ada yang perlu saya takutkan.
HIV, bimbang, takut, dll semua itu hanyalah virus yang meracuni tubuh dan jiwa kita.
kecanduan itu adalah penyakit. semakin lama kamu terjebak dalam rasa bimbang, berarti penyakit itu semakin dalam merusakmu.


satu hal lagi yang membuat mereka sama dengan kita adalah mereka punya mimpi, keinginan, dan cita-cita.
mereka berkata...
"saya ingin menikah dan punya anak, saya ingin mendidik anak saya agar tidak seperti saya" itulah mimpi mereka.
saya sangat yakin, semua orang mempunyai kesempatan untuk meraih mimpi mereka, dan saya percaya mereka pantas untuk meraih mimpi mereka. karena Allah menyayangi mereka dan kita semua. :D

1 komentar:

LETS GET YOUR DREAMS mengatakan...

:)
mengapa kita tidak mencobe lebih dewasa,
penyesalan memang adanya belakangan, tapi masih beruntung orang yang di beri kesempatan untuk menyesal dan bertaubat di dunia,
sementara kita bahkan mungkin tak bisa menggali di mana kesalahan kita,
padahal mungkin umur yang kita miliki tak sebanding dengan beban yang kita tanggung,
tapi mengapa kita tetap saja lalai

Poskan Komentar

komentar itu memabangun :)
terimakasih kunjungannya...

About Me

Foto Saya
hafda putri hibatul wahdini
muslim, hafda, minang, psikologi, indonesia :)
Lihat profil lengkapku